Apakah Tren Video Vertikal Bisa Menghasilkan Uang?

Tren video vertikal semakin marak sekarang ini mulai dari segala lini, bahkan media sosial populer seperti TikTok, Reels dan Shorts juga ikut berkontribusi dalam populernya format tersebut. Namun, jelas TikTok seakan menjadi pionir utama dalam bisnis lalu diikuti oleh raksasa teknologi lainnya seperti Instagram dan YouTube yang juga tidak ingin kalah saing untuk mendapatkan perhatian pengguna dalam bentuk media baru ini.

apakah shorts dapat uang
Instagram, TikTok, YouTube

Banyak orang berinisiatif membuat video profesional dengan format vertikal atau portrait karena lebih mudah dan praktis. Selain itu, waktu produksi juga terbilang cepat jika dibandingkan dengan produksi video horizontal yang pada umumnya memakan waktu dan tenaga yang lebih banyak. Belum lagi, view atau tayangan bisa saja fluktuatif dan jalan di tempat. Berbeda dengan format video vertikal yang memiliki algoritma sedikit berbeda, video vertikal di TikTok maupun YouTube cenderung memiliki tayangan yang relatif banyak. 

Beberapa data menunjukan bahwa tren perkembangan video vertikal terus melonjak tiap tahunnya dan akan terus berkembang. YouTube saja mengalami peningkatan popularitas yang sangat signifikan dengan YouTube Shorts. Kabarnya Shorts telah digunakan oleh 1,5 miliar pengguna bulanan dengan 30 miliar penayangan harian. 

Maka tidak heran, YouTube seakan memberikan perhatian penuhnya terhadap tren ini, mereka bahkan meluncurkan program Shorts Fund yaitu uang yang akan dibagikan ke kreator aktif dengan mengikuti beberapa syarat tertentu. Insentif berupa uang ini disediakan khusus oleh YouTube untuk kreator Shorts yang menghasilkan video paling banyak dilihat dalam rentang waktu 2021 hingga 2022.

Baca Juga : Cara Melihat Password WiFi di HP Xiaomi

Setidaknya ada beberapa syarat utama yang harus dipenuhi oleh kreator agar bisa mengikuti program Shorts Fund. Berikut syaratnya :

  • Kreator harus sudah berusia 13 tahun keatas. Kreator yang masih dibawah 13 tahun tidak bisa berpartisipasi dalam program ini. 
  • Kanal YouTube kreator harus memiliki minimal 1 video Shorts dalam 180 hari terakhir.
  • Harus membuat video Shorts yang original, bukan konten daur ulang dari platform lain.
  • Kreator harus berada di salah satu negara yang mendukung program Shorts Fund.

Selain itu, YouTube juga tengah mempersiapkan strategi baru untuk memonetisasi video Shorts yang akan tersedia secara umum pada tahun depan. Kabarnya YouTube mengumumkan kreator video Short bisa ikut mendaftarkan diri ke YPP (Youtube Partner Program) pada tahun 2023. Kriteria yang harus dipenuhi oleh kreator adalah memiliki setidaknya 1000 pelanggan dan 10 juta penayangan Shorts dalam 3 bulan.

Ini kurang lebih sama dengan skema monetisasi video panjang atau horizontal YouTube. Adapun pembagian persentasenya sendiri yakni 45% untuk YouTube dan sisa 55% untuk kreator video. Saat pengguna membuka Shorts lalu sudah menonton 6 video, pengguna akan melihat 2 iklan. Jadi intinya, iklan YouTube Shorts nantinya akan berada diantara video-video yang sedang di scroll pengguna, bukan skipable-ads seperti halnya format video panjang.

Selain mendapatkan sumber penghasilan dari iklan. Kreator Shorts juga bisa ikut menikmati penghasilan dari pendanaan atau donasi, channel membership, brand, sponsor dan fitur-fitur menarik lainnya seperti Super Chat, Super Sticker, Super Thanks. Dengan banyaknya program serta fitur-fitur ini, kreator merasa lebih dihargai atas karya-karya yang dibuatnya. 

Masa depan terlihat cerah bagi YouTube Shorts. Jadi, bisa ditebak akan ada banyak orang yang berbondong-bondong pindah ke platform ini dengan tujuan utama menghasilkan uang. Ini juga menjadi catatan tersendiri bagi paltform-platform lain seperti TikTok dan Reels, mereka harus banyak-banyak berbenah jika ingin tetap menjadi pilihan utama pengguna.

Meskipun YouTube Shorts tampak lebih unggul dengan strategi dan skema monetisasi yang memungkinkan pengguna mendapatkan banyak sumber penghasilan. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa TikTok masih lebih unggul dalam halnya fitur-fitur yang dibawanya seperti filter menarik nan nyentrik serta tren-tren yang sudah menjadi bagian esensial dari ekosistem TikTok sendiri.


Awalnya tren di TikTok dipenuhi oleh "dance" yang sekarang sudah merambah ke lebih banyak genre. Beberapa tren mengharuskan kreator untuk menggunakan klip audio dari video populer, acara televisi maupun video-video yang sedang populer di TikTok. Pengguna yang mengikuti tren ini cenderung mendapatkan tayangan video yang lebih banyak karena algoritma FYP (For You Page).

TikTok memang masih belum se-taktis YouTube dalam halnya monetisasi. Tapi, TikTok sudah mengambil langkah untuk menghargai konten yang dibuat pengguna dengan memberikan insentif melalui program TikTok Creator Fund. Imbalan ini akan diberikan ke kreator dengan video yang memiliki audiens banyak dan berperforma bagus.

Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi agar bisa mengikuti program TikTok Creator Fund :

  • Berlokasi di US, UK, Prancis, Jerman, Spanyol atau Italia (Indonesia belum termasuk).
  • Pengguna setidaknya berumur 18 tahun atau lebih.
  • Memiliki setidaknya 10.000 pengikut.
  • Memiliki setidaknya 100.000 tayangan video dalam 1 bulan terakhir.
  • Akun mematuhi panduan komunitas dan kebijakan layanan TikTok.

Kreator yang sudah memenuhi beberapa syarat diatas bisa langsung mengajukan diri untuk mengikuti program TikTok Creator Fund di TikTok melalui akun Pro/Creator. Sayangya, Indonesia yang menjadi market besar malah belum tersedia untuk program ini. Menarik untuk diikuti strategi apa saja yang akan digunakan oleh TikTok dalam halnya memberikan insentif kepada pengguna.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama